Jumat, 24 Desember 2010

Tipe Lelaki Dan Wnita Yang Harus Di Jauhi Dalam Memilih Pendamping Hidup

Bismillah...

Segala puji bagi Allah Ta’ala atas segala macam nikmat yang telah diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Tulisan ini ana rangkum dari beberapa sumber...smoga bermanfaat buat kita...

Setiap insan yang beriman tentu menginginkan untuk mendapatkan pasangan hidup yang shalih/ shalihah. Karena keshalihan suami istri adalah modal dasar yang tidak bisa ditawar dalam menciptakan rumah tangga yang kata orang, sakinah, mawaddah wa rahmah, ini tidak keliru sebab realita memang membuktikan demikian.
Berikut ini beberapa tipe lelaki yang harus dijauhi dalam memilih pasangan hidup kelak...begitu pula bagaimana tipe-tipe wanita yang harus dijauhi oleh laki-laki dalam memilih calon istri sehingga sebagai seorang wanita kita akan berusaha untuk tidak menjadi seorang wanita yang dijauhi.. wal'iyadzubillah...

-----------------Tipe Laki-laki seperti apa yang harus dijauhi oleh wanita??------------------

-----

1. Laki-laki banci yang meniru-niru perempuan.

2. Laki-laki yang akan menikahimu semata-mata karena kecantikanmu, karena jika ia melihat wanita yang lebih cantik darimu, ia akan meninggalkanmu dan mengalihkan dirinya pada wanita yang lebih cantik tersebut.

3. Laki-laki peminum khamr, pengguna obat bius dan penikmat rokok.... See More

4. Laki-laki yang pekerjaannya adalah penata rambut wanita.

5. Pemakan harta riba, yang bermuamalah dengan transaksi ribawi.

6. Laki-laki yang meninggalkan shalat.

7. Laki-laki yang mau menerima suap.

8. Laki-laki yang bakhil (pelit).

9. Jauhilah pula laki-laki yang tidak punya rasa cemburu, yang hanya akan menempatkan hal-hal yang “kotor” di rumah keluarganya, dan membiarkan pula keluarganya tersebut berpenampilan memalukan. Ia pun akan mendatangimu dengan dengan membawa benda-benda yang sia-sia, alat-alat musik, kerjaannya hanya menonton televisi dan video. Yang muncul dari laki-laki ini hanyalah hal yang membuat dahi berkerut.

10. Laki-laki quburi (penyembah kubur). Ia akan mengelilingi kuburan, bertawasul dengannya, meminta sesuatu kepada kuburan tersebut, bernadzar dengannya, dan ia pun suka bepergian ke tempat-tempat maulid.

11. Laki-laki Penjual benda-benda yang memabukkan, mulai dari khamr, obat bius, dan rokok. Ia pun bergaul dengan para penjual arak.

12. Laki-laki yang bekerja di hotel-hotel para turis, yang menyediakan daging babi dan minuman keras.

13. Laki-laki ahli magis dan penyihir, yang mengobati manusia atas nama pengobatan Qur’ani. Ia memberi mereka jimat-jimat, benda tolak bala’, dan memberikan pekerjaan kepada manusia dengan sihirnya itu.

===========

Diterjemahkan dari pasal واحذري هذا النوع من الرجال kitab من تخترين, karya الشيخ ندا أبو أحمد oleh Abu Muhammad Al 'Ashri
http://alashree.wordpress.com/2010/01/27/laki-yg-diblacklist/


Kemudian bagaimana tipe-tipe wanita yang harus dijauhi oleh seorang laki-laki dalam memilih calon istri??

---------------------------Janganlah Menikahi 6 Tipe Wanita--------------------------------------

Ada beberapa tipe-tipe wanita yang perlu di jauhi dalam memilih calon istri kelak, yakni :

“Annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah. Dalam al-Ihyaa’ bab IV halaman 712 sampai 713 dijelaskan sebagai berikut:

Ditanyakan kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu‘anhu : “Siapakah wanita yang paling utama?” Ia menjawab: “Yaitu wanita yang tidak mengenal kata-kata yang tercela dan tidak berfikir untuk menipu suaminya, serta hatinya kosong kecuali berhias untuk suaminya dan untuk tetep memelihara keluarganya.”

Seorang Arab mengabarkan kepada kita tentang wanita yang sebaiknya dijauhi, ketika berpikir untuk menikah.

Ia mengatakan: “Janganlah menikahi enam jenis wanita, yaitu yang annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah.”
“Annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah. Dalam al-Ihyaa’ bab IV halaman 712 sampai 713 dijelaskan sebagai berikut:

(1) Annanah ialah wanita yang banyak merintih, mengeluh serta memegang kepalanya setiap saat. Sebab, menikah dengan orang yang sakit atau pura-pura sakit tidak ada manfaatnya.”

(2) “Mannanah ialah wanita yang suka mengungkit-ungkit (kebaikan) di hadapan suaminya, dengan mengatakan: “Aku telah melakukan demikian dan demikian karenamu.”

(3) Hannanah ialah wanita yang senantiasa rindu kepada suaminya yang lain (yang terdahulu) atau anaknya dari suami yang lain. Ini pun termasuk jenis yang harus dijauhi.

Jika ingin menikahi janda, seorang lelaki tetap harus memperhatikan rambu-rambu yang telah diberikan Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam untuk memilih calon istri.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.”

(Riwayat Bukhari dan Muslim)

(4) “Haddaqah ialah wanita yang memanah segala sesuatu dengan kedua matanya lalu menyukainya dan membebani suami untuk membelinya.”

keterangan :“Memanah disini maksudnya, gila mata kalau lagi jalan-jalan dan melihat barang-barang yang disukainya. Misalnya kalau lagi ke mall dia lihat baju bagus… mau punya, lihat tas bagus…. mau punya; liat perhiasan… mau punya… lihat orang pake ini… pengen punya… lihat eno mau punya…. Terus meminta sama suaminya dan kesel kalau nggak dibeliin

(5) barraqah. Barraqah mengandung dua makna:

1. Wanita yang sepanjang hari merias wajahnya agar wajahnya menjadi berkilau yang diperoleh dengan cara meriasnya.

2. Marah terhadap makanan. Ia tidak makan kecuali sendirian dan menguasai bagiannya dari segala sesuatu. Ini bahasa Yaman. Mereka mengatakan: “Bariqat al-Mar-ah wa Bariqa ash-Shabiyy ath-Tha’aam,” jika marah pada makanan itu.”

(6) Dan yang terakhir, syaddaqah. Syaddaqah ialah wanita yang banyak bicara.”

===========
http://itarumaisha.wordpress.com/2009/05/31/janganlah-menikahi-6-tipe-wanita/#more-135

Lalu.....Siapakah yang pantas menjadi wanita idaman? Bagaimana kriterianya? Ini sangat perlu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, sehingga si pria tidak salah dalam memilih. Begitu juga kriteria ini dimaksudkan agar si wanita bisa selalu introspeksi diri.

------------------------------------Kriteria Wanita Idaman---------------------------------------

----Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus

Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Kriteria Pertama: Memiliki Agama yang Bagus

Inilah yang harus jadi kriteria pertama sebelum kriteria-kriteria lainnya. Tentu saja wanita idaman memiliki aqidah yang bagus, bukan malah aqidah yang salah jalan. Seorang wanita yang baik agamanya tentu saja tidak suka membaca ramalan-ramalan bintang seperti zodiak dan shio. Karena ini tentu saja menunjukkan rusaknya aqidah wanita tersebut. Membaca ramalan bintang sama halnya dengan mendatangi tukang ramal. Bahkan ini lebih parah dikarenakan tukang ramal sendiri yang datang ke rumahnya dan ia bawa melalui majalah yang memuat berbagai ramalan bintang setiap pekan atau setiap bulannya. Jika cuma sekedar membaca ramalan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan,

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya mengenai sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Jika sampai membenarkan ramalan tersebut, lebih parah lagi akibatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kufur pada Al Qur’an yang diturunkan pada Muhammad.”

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1446, dari Abu Hurairah)

Ibnu Uyainah berkata,
“Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”.

---Kriteria Kedua: Selalu Menjaga Aurat
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”(HR. Muslim no. 2128, dari Abu Hurairah) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang dalam hadits ini adalah:

1. Wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
2. Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang.(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, 17/190-191, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua)

---Kriteria Ketiga: Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syar’i

Wanita yang menjadi idaman juga sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Qur’an dan As Sunnah.
Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.

Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.

Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.

Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum.
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.(HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”(HR. Bukhari no. 6834)

---Kriteria keempat: Betah Tinggal di Rumah

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya” (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

---Kriteria Kelima: Memiliki Sifat Malu
Kriteria ini juga semestinya ada pada wanita idaman. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Seharusnya wanita selalu memiliki sifat malu ketika bergaul dengan lawan jenis, ketika berbicara dengan mereka dan ketika berpakaian.

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain)

Intinya, jika seorang wanita ingin mendapatkan pendamping hidup yg sholih yg baik akhlak dan agamanya, hendaknya itu semua kembali pada dirinya. Mari kita koreksi diri kita...sudahkah kita juga memiliki kriteria2 tersebut? sudahkah kita menjadi wanita yg cukup utk disebut sbgai wanita idaman??

Ingatlah: ”Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”.
Inilah kaedah umum yang mesti diperhatikan.
wallahu a'lamu bishowab....

===========
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/2890-kriteria-wanita-idaman.html

Lagiii....
--------------------------Bukan Pria Idaman----------------------

Siapakah pria yang tidak pantas menjadi idaman dan tambatan hati? Apa saja ciri-ciri mereka?

Ciri Pertama: Akidahnya Amburadul

Di antara ciri pria semacam ini adalah ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak. Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan jimat-jimat. Ingain buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar semakin PD dalam melangkah.
Inilah ciri pria yang tidak pantas dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang rusak.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.” (Al Fawaid)
Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak -padahal itu adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut rusak. Perhatikanlah hal ini!

Ciri Kedua: Menyia-nyiakan Shalat

Tidak shalat jama'ah di masjid juga menjadi ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jama'ah bagi pria adalah suatu kewajiban.
Jika pria yang menyia-nyiakan shalat berjama'ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjama'ah sendirian maupun secara berjama'ah?!
Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, ”Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

Ciri Ketiga: Sering Melotot Sana Sini

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".” (QS. An Nur: 30)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya.

Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)

Ciri Keempat: Senangnya Berdua-duaan

Inilah sikap pria yang tidak baik yang sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi kholwat yang juga terlarang.

Ciri Kelima: Tangan Suka Usil

Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.
Dari Abdulloh bin ‘Amr, ”Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.” (HR. Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Salim dalam Al Manahi As Syari’ah)

Ciri Keenam: Tanpa Arah yang Jelas

“Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Muslim no. 996)
Berarti kriteria pria idaman adalah ia bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah.
Sehingga seorang pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa berwirausaha mandiri.
Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun, seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup untuk dapat mendidik istri dan keluarganya.
Sehingga dari sini, seorang pria yang kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa sebagai petunjuk bagi para wanita muslimah yang ingin memilih laki-laki yang pas untuk dirinya. Dan juga bisa menjadi koreksi untuk pria agar selalu introspeksi diri. Nasehat ini pun bisa bermanfaat bagi setiap orang yang sudah berkeluarga agar menjauhi sifat-sifat keliru di atas. Semoga Allah memudahkannya.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
==================
http://www.rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/2859-bukan-pria-idaman.html

wallahu a'lam

Rabu, 08 Desember 2010

Nilai Seorang Anak


Semalam merupakan hari pertama saya membuat praktikal di hospital. Di Rusia, untuk tahun kedua perubatan, disebabkan masih tidak banyak yang dipelajari, maka sukatan untuk praktikal adalah membuat kerja-kerja yang berkaitan dengan kejururawatan. Semua rakan-rakan telah pulang ke Malaysia menikmati cuti indah bersama keluarga, hanya saya yang gatal kaki untuk cuba mencari pengalaman di sini.
Sepanjang satu hari semalam, hanya satu yang mahu dikongsi. Ceritanya begini.
Jururawat memanggil kami (saya dan seorang lagi pelajar), untuk membantunya membersihkan badan-badan pesakit. Ketika

Pendekatan Untuk Berubah

Alam semesta mula mengembang sejak langit dan bumi dipisahkan ALLAH s.w.t. (Al-Quran 21:30). Manusia menamakan pemisahan ini dengan The Big Bang Theory.
Kajian saintis baru-baru ini telah mendapati bahawa pengembangan ini bukan sahaja masih terjadi, malah kelajuannya semakin meningkat.
Ia menafikan tanggapan awal bahawa kelajuan pengembangan alam semesta ini akan menjadi semakin perlahan.
Oleh kerana kita adalah sebahagian daripada alam ini, kita juga mengalami pengembangan.

Bagaimana Bidadarimu?


"Jangan engkau kahwini wanita yang enam; yang ananah, yang mananah, dan yang hananah, dan jangan engkau kahwini yang hadaqah, yang baraqah dan yang syadaqah." - Imam Al-Ghazali

Senin, 13 September 2010

Hukuman Zina



1. PENGERTIAN ZINA
Dalam al-Mu’jamul Wasith hal 403 disebutkan, “Zina ialah seseorang bercampur dengan seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan syar’i.”
2. HUKUM ZINA
Zina adalah haram hukumnya, dan ia termasuk dosa besar yang paling besar.
Allah swt berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Israa’: 32)

Sabtu, 11 September 2010

Membangun Pribadi Pantang Menyerah


Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, niscaya Kami hidupkan dia dengan kehidupan yang baik dan Kami balasi mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97).
Allah telah menciptakan alam dan isinya berpasang-pasangan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik antara satu dengan yang lainnya. Artinya kondisi alam ini akan selalu dinamis sesuai dengan kehendak-Nya. Begitu juga halnya dengan kehidupan manusia, akan mengalami

Kelezatan iman

Diriwayatkan dari Anas r.a. : Nabi Saw. Pernah bersabda ,”Siapapun yang memiliki tiga kualitas berikut akan memperoleh kelezatan iman;

1. orang yang mencintai Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah SAW-Nya melebihi apa pun.

2. orang yang mencintai orang lain semata-mata karena Allah SWT,

3. orang yang membenci kekafiran sebagaimana ia membenci dimasukkan ke dalam api neraka

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab rahimahullah berkata:
Perhatikanlah, semoga Allah memberimu petunjuk untuk mentaatinya, melindungi dan senantiasa menjagamu di dunia dan akhirat. Sesungguhnya maksud doa dan ruhnya dan hati adalah memasrahkan hati pada Allah. Jika engkau berdoa tanpa hati maka laksana jasad yang tiada ruh di dalamnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (al-Ma’un 4-5).

Rabu, 08 September 2010

Sifat Shalat Nabi

Hukum Bersumpah Atas Nama Selain Allah Subhanahu wata’ala

Tidak dibenarkan bersumpah dengan nama sesuatu makhlukpun, baik itu Nabi, Ka’bah, amanah atau yang lain. Ini adalah pendapat jumhur (sebagian besar) ulama, bahkan ada yang mengatakan bahwa ia sudah merupakan ijma’ (konsensus para ulama). Memang ada diriwayatkan khilaf syaaz (pendapat lain yang ganjil) yang mengatakan bolehnya bersumpah demi Nabi Allah. Pendapat ini sama sekali tidak mempunyai kekuatan hukum, bahkan dianggap sebagai pendapat yang bathil, karena perbedaan ini terjadi setelah adanya ijma’ para ulama sebelumnya (yang melarang hal tersebut). Di samping itu, pendapat ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dalam masalah ini, antara lain:
Diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Imam Muslim dari Almirul Mukminin Umar bin Khattab, bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: “Barangsiapa yang bersumpah: Demi Lata dan Uzza maka hendaklah ia mengatakan: “Laa ilaha illa Allah”.



Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.
Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat. Hukum Shalat ‘Ied Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“[2]
Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).[3]

Hati-Hatilah Terhadap Bid’ah Meskipun Kecil, Karena Yang Kecil Itu Akan Membesar.

Telitilah Setiap Orang yang Engkau Dengar Perkataannya

Berkata Al Imam Al Barbahari Rahimahullahu Ta’ala:

واحذر صغار المحدثات من الأمور فإن صغار البدع تعود حتى تصير كبارا وكذلك كل بدعة أحدثت في هذه الأمة كان أولها صغيرا يشبه الحق فاغتر بذلك من دخل فيها ثم لم يستطع المخرج منها فعظمت وصارت دينا يدان بها فخالف الصراط المستقيم فخرج من الإسلام
فانظر رحمك الله كل من سمعت كلامه من أهل زمانك خاصة فلا تعجلن ولا تدخلن في شيء منه حتى تسأل وتنظر هل تكلم فيه أحد من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أو أحد من العلماء فإن أصبت فيه أثرا عنهم فتمسك به ولا تجاوزه لشيء ولا تختر عليه شيئا فتسقط في النار

Hati-hatilah terhadap perkara yang diada-adakan meskipun kecil, karena sesungguhnya bid’ah yang kecil itu akan terus terulang hingga ahirnya menjadi besar. Demikian pula setiap bid’ah yang dimunculkan pada umat ini, pada awalnya adalah kecil menyerupai kebenaran sehingga terkecoh orang yang masuk padanya, kemudian ia tidak mampu untuk keluar darinya dan ahirnya bid’ah tersebut menjadi ajaran agama yang dianut, menyelisihi shiratal mustaqim hingga ahirnya ia keluar dari Islam.

Semoga Allah Ta’ala merahmatimu, telitilah setiap orang yang engkau dengar perkataannya khususnya orang-orang yang hidup di zamanmu, janganlah kamu tergesa-gesa dan jangan sampai kamu masuk ke dalamnya sedikitpun sampai kamu tanyakan dan kamu teliti apakah ada salah seorang dari kalangan shahabat Radhiallahu’anhum atau salah seorang dari ulama yang berbicara tentang masalah itu? Apabila ada atsar dari mereka yang membenarkan hal itu maka peganglah atsar tersebut erat-erat, jangan kamu lampaui sedikitpun dan jangan kamu utamakan sesuatupun daripadanya sehingga kamu akan terjerumus ke dalam Neraka.

Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi

Sesungguhnya penulis Rahimahullahu Ta’ala mengatakan di sini perkataan yang berdasarkan pengalaman pada perkara ini. Yakni bahwasanya bid’ah yang kecil itu akan senantiasa terulang hingga menjadi besar. Seringnya manusia tertipu dengannya, sebab di dalamnya terdapat syubhat yang menyerupai kebenaran. Sebagai contohnya aqidah Khawarij, apa awalnya? Awalnya adalah pada peristiwa peperangan di Nahrawan. Hampir saja pasukan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu mengalahkan penduduk Syam yakni pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu’anhu. Yang demikian itu setelah terbunuhnya Ammar bin Yasir Radhiallahu’anhu, banyak sekali para shahabat Radhiallahu’anhum yang meriwayatkan bahwa nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Wahai sungguh beruntungnya Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok yang durhaka (Khawarij).” (Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari (248 dan 2601), Muslim dalam Kitabul Fitan wa Asratis Sa’ah)

Kemudian Shahabat-shahabat Mu’awiyah Radhiallahu’anhum memiliki gagasan untuk mengangkat mushaf-mushaf di atas lembing-lembing mereka seraya mengatakan, “antara kami dan kalian terdapat kitabullah.” seketika itu para shahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu menghentikan penyerangan dan mereka mengatakan, “kita tidak akan memerangi orang yang menyeru kita (untuk berhukum) kepada kitabullah.” Maka berkatalah Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu, “kalimat kebenaran namun dimaksudkan untuk kebathilan.”
Ahirnya mereka terus melangsungkan peperangan dan enggan untuk berhenti. Pada saat itu bergeraklah para juru damai, mereka datang dan pergi antara kedua belah kubu Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu dan Mu’awiyah Radhiallahu’anhu. Hingga terjadi kesepakatan antara kedua shahabat yang mulai tersebut untuk mengangkat dua hakim yang akan menyelesaikan perkara di antara keduanya. Maka keluarlah beberapa shahabat Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu seraya mengatakan, “tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Maka Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu mendebat mereka dan berkata keoada mereka, “sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk mengangkat dua hakim untuk menyelesaikan perkara antara istri dan suaminya. Dan memerintahkan untuk mengangkat dua hakim untuk menyelesaikan masalah buruan (pada saat ihram).” Namun mereka tetap enggan dan tidak mau menerima. Tatkala mereka kembali, mereka pergi ke suatu tempat yang bernama Harura’.
Awal mula tumbuhnya cikal bakal Khawarij adalah perkataan mereka, “tidak ada hukum selain hukum Allah.” perkataan ini muncul pertama kali nampak benar, akan tetapi setelah itu mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu mengangkat hakim dari kalangan manusia dalam menyesaikan perkara agama. Didasari hal ini mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu, kemudian mengkafirkan seluruh shahabat kecuali Abu Bakar dan Umar Radhiallahu’anhum.
Inilah contoh apa yang disebutkan oleh penulis Rahimahullah bahwa bid’ah awal mulanya adalah kecil dan pada awal mula perkembangannya menyerupai kebenaran, kemudian syaithan terus menerus menghasung para palakunya untuk semangat mengerjakannya hingga ahirnya bid’ah tersebut menjadi besar. Oleh karena itu Imam Al Barbahari mengatakan,
ثم لم يستطع المخرج منها فعظمت وصارت دينا يدان بها فخالف الصراط المستقيم فخرج من الإسلام
“Kemudian ia tidak mampu untuk keluar darinya dan ahirnya bid’ah tersebut menjadi ajaran agama yang dianut, menyelisihi shiratal mustaqim hingga ahirnya ia keluar dari Islam.”.
Yakni tidak mampu untuk meninggalkannya karena menganggap baik bid’ah tersebut. Adapun perkataan beliau,
فخرج من الإسلام
“…hingga ahirnya ia keluar dari Islam.” perkataan ini semisal dengan perkataan yang telah berlalu,
[1]
فمن خالف أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم في شيء من أمر الدين فقد كفر
“Barangsiapa yang menyelisihi shahabat Radhiallahu’anhum pada suatu perkara dari agama ini maka dia telah kafir.”
Adapun ini kami tidak setuju dengannya, tidak pula disetujui oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah kecuali apabila perkataan tersebut dita’wil. Jika saja beliau Rahimahullah mengatakan, “maka ia keluar dari iman menuju Islam” niscaya lebih utama (tepat). Beliau Rahimahullah sering berlebihan dalam beberapa hal seperti dalam perkara ini, mengkafirkan seorang Muslim hanya disebabkan suatu bid’ah yang ia kerjakan. Padahal ia tidak keluar dari Islam pada awal pertama kali mengerjakannya. Bid’ah ada yang menjadikan pelakunya kafir dan ada pula yang menjadikan pelakunya fasik, maka memutlakan perkataan “kafir” pada setiap kebid’ahan adalah salah, wajib untuk memperingatkan para penuntut ilmu dari kesalahan ini.
Perkataan beliau Rahimahullahu Ta’ala,
فانظر رحمك الله كل من سمعت كلامه من أهل زمانك خاصة فلا تعجلن ولا تدخلن في شيء منه حتى تسأل وتنظر هل تكلم فيه أحد من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أو أحد من العلماء فإن أصبت فيه أثرا عنهم فتمسك به ولا تجاوزه لشيء ولا تختر عليه شيئا فتسقط في النار
“Semoga Allah Ta’ala merahmatimu, telitilah setiap orang yang engkau dengar perkataannya khususnya orang-orang yang hidup di zamanmu, janganlah kamu tergesa-gesa dan jangan sampai kamu masuk ke dalamnya sedikitpun sampai kamu tanyakan dan kamu teliti apakah ada salah seorang dari kalangan shahabat Radhiallahu’anhum atau salah seorang dari ulama yang berbicara tentang masalah itu? Apabila ada atsar dari mereka yang membenarkan hal itu maka peganglah atsar tersebut erat-erat, jangan kamu lampaui sedikitpun dan jangan kamu utamakan sesuatupun daripadanya sehingga kamu akan terjerumus ke dalam Neraka.”
Aku (Syaikh Ahmad bin Yahya) katakan: Semoga Allah merahmati penulis (Imam Al Barbahari). Sungguh, beliau Rahimahullah telah menunjukkan kepada kebaikan melalui perkataannya ini dan memerintahkan agar ta’anni (selalu hati-hati) untuk masuk sedikit saja ke dalam perkara-perkara yang baru. Apabila kamu mendengar salah seorang menyeru kepada manhaj IM (Ikhwanul Muslimin) [2], maka jangan tergesa-gesa untuk menyambut seruannya (menyetujuinya) dan jangan memuji manhaj tersebut. Apabila kamu mendengar seseorang yang menyeru kepada pemahaman Sururiyah [3], atau Quthbiyyah, atau kepada JT (Jama’ah Tabligh) [4], maka jangan tergesa-gesa untuk menyambutnya, dan jangan kamu lemparkan dirimu ke tengah medan tersebut sebelum kamu menanyakan, meneliti, dan membahasnya. Pikirkanlah dan bahaslah bersama orang-orang yang tahu manhaj tersebut dan tidak ikut masuk ke dalamnya, atau orang yang sudah pernah masuk ke dalamnya kemudian meninggalkannya atau orang yang menelaah tentang mereka sampai nampak jelas bagimu hakikatnya (siapa mereka itu?). Karena jika kamu tergesa-gesa niscaya kamu akan terjatuh ke dalam jebakan dan perangkap Hizbiyyah yang ingin menguasaimu dan memasukkanmu ke dalam barisan mereka hingga kamu menjadi Mubtadi’ (Ahlul bid’ah) dan masuk ke dalam barisan oang-orang yang membela Ahlul bid’ah, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Betapa banyak orang yang terlalu dini menyambut manhaj tersebut dan tergesa-gesa masuk ke dalamnya..! Betapa banyak orang yang sudah terjatuh dalam perangkapnya sebelum mencari keterangan tentang aib manhaj tersebut..! Oleh karena itu mereka jatuh ke dalamnya. Oleh sebab itu aku peringatkan kamu sebagaimana pemilik matan ini -yakni penulis kitab Syarhus Sunnah Lil Imam Al Barbahari- memperingatkanmu. Aku peringatkan kamu jangan sampai tergesa-gesa masuk ke dalam golongan-golongan tersebut. Aku ajak kamu untuk senantiasa ta’anni dan berusaha membahas. Ambillah kitab-kitab yang berisi kritikan terhadap hizb-hizb (kelompok-kelompok) tersebut. Ambillah kitab-kitab tersebut dan bacalah tentang kelompok-kelompok tersebut sebelum kamu masuk ke dalamnya. Apabila kamu mendapatkan kebenaran di dalamnya maka jangan sesekali kamu mengutamakan yang lain daripadanya. Karena sesungguhnya kamu tidak akan ditanya apabila kamu telah diletakkan dalam kubur kecuali tentang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, yang mana tidak akan sah dan tidak sah pengakuanmu, dan sebelum itu tidak sah Islammu kecuali dengan mempersaksikan kebenaran risalah beliau Shallallahu’alaihi wasallam serta mempersaksikan akan ke-Esaan Allah Azza wajalla. Kamu tidak akan ditanya tentang Fulan, tidak pula tentang si Fulan dan si ‘Allan, maka dari itu bertaqwalah kamu kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam urusan pribadimu. Berhati-hatilah, jangan sampai terperosok ke dalam jebakan Hizbiyyun..! Sebab kamu akan menyesal apabila kamu sudah terjatuh ke dalamnya, baik dalam waktu dekat ini maupun waktu yang akan datang. Tidak ada ganti bagi dirimu untuk menebus jiwamu apabila kamu binasa dan merugi, tidak..! Demi Allah.. Allah Ta’ala telah berfirman,
وَالْعَصْر إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)

AS-SUNNAH Dan kedudukannya Dalam islam

PENGERTIAN SUNNAH:
Al-sunnah menurut bahasa dalah jalan,tabiat,perilaku dan penjelasan,terpuji ataupun tercela.Sunnah Allah